ADANYA PENDIDIKAN DI KAMPUNG/DESA KULUR
Diwaktu JOHANIS MOROPI telah berada di Kampung Kulur dan mengembangkan Agama ROOMS KATHOLIK, maka disamping itu juga ia membuka sebuah sekolah yang berbentuk Liar, dimana dalam sekolah tersebut hanya diajarkan Abjad dengan cara menyanyi.
Dalam sekolah tersebut murid yang diterima tidak memendang batasan usia ataupun apa saja yang merupakan tuntutan/syarat mutlak, karena tujuan dan maksud sekolah tersebut hanya supaya penduduk mengetahui/ mengenal huruf dan angka. Dalam menjalankan tugasnya JOHANIS MOROMPI hanya dibantu oleh anaknya yang bernama TAKASANA.
Ketika PIKAULI datang dengan surat keputusan dari pemerintahan Belanda, maka sekolah tersebut dialihkan menjadi sebuah sekolah yang bersubsidi yang mempunyai 3 (Tiga) buah kelas, dan pada tahun 1863 sekolah tersebut bernama “MIDRAS GENOSHAP”. Beberapa waktu kemudian PIKAULI dipindahkan ke Enemawira dan sebagai penggantinya adalah MIKEL MANUMPIL.
Pada tahun 1878 MIDRAS GENOSHAP itu diambil alih oleh pemerintah dan dijadikan SEKOLAH GUBERNEMEN, dengan Kepala Sekolahnya ialah Guru LESAR.
Alhasil sekolah ini banyak pemuda/i Kampung Kulur yang telah melanjutkan sekolahnya dan diantara mereka ada juga yang menjadi Guru, dimana antara lainnya ialah “LUCAS PENAUMANG LAHAMA” dan “PAULUS SASENGGALA dimana kedua-duanya adalah lulusan/tamatan dari “KWEKSCHOOL” Ambon Maluku.
Pada tahun 1884 Guru LESAR dipindahkan ke Tahuna dan diganti oleh Guru J. SOMPOTAN sebagai kepala sekolah.
Pada tahun 1902 GURU J. SOMPOTAN dipindahkan ke Kiawang Siau, dan sebagai penggantinya adalah Guru DONIS KANTOHE dan pada tahun 1908 beliau dipindahkan ke Manganitu, dan digantikan oleh Guru PAULUS SASENGGALA.
Pada tahun 1913 di pulau Sangir telah diubah status dari beberapa buah sekolah menjadi sekolah LANSCHAP dan diantaranya adalah SEKOLAH GUBERNEMEN KULUR.
Pada saat itu P. SASENGGALA tidak mau bekerja pada SEKOLAH LANSCHAP sehingga ia diberi Waggel dan sebagai penggantinya ialah seorang Guru dari Siau yang Bernama SARINA KANSIL.
Tiada berapa lamanya ia bertugas kembali ia diganti oleh guru dari Minahasa yang bernama Guru R.RUMATE. Guru R.RUMATE ini juga tidak berapalamanya dipindahkan kembali ke Minahasa dan diganti oleh Guru DURIMALANG. Guru DURIMALANG diganti oleh Guru N.NIMOT dan Guru N.NIMOT ini diganti oleh Guru H.D. LAURENIST.
Dalam tahun 1936 sekolah-sekolah LANSCHAP dihapuskan dan diubah menjadi Sekolah SENDING, dan sebagai kepala sekolah Sending (Dasar) ialah Z.MANANSANG dan pada masa penjajahan jepang Z.MANANSANG dipindahkan ke Enemawira dan di Kulur yang menjadi wakil kepala sekolah ialah HERMAN TIMBOWO. Tiada berapa lama Herman Timbowo diganti pula oleh L.PAPENTE, dan tahun 1946 L.Papente dipindahkan ke Bungalawang sebagai kepala sekolah, dan di Kulur sebagai penggantinya ialah DEMAS SALAMATE, juga sebagai kepala sekolah.
Pada tahun 1957 D.Salamate dipindahkan ke Kalasuge dan diganti oleh ZADRAK TOPPOL, dan seterusnya Zadrak Toppol dipindahkan kembali ke Manalu, untuk penggati posisi kepala sekolah di Kulur ialah BOAS TAHULENDING. Tidak lama kemudian B.Tahulending dipindahkan pula ke Pintareng dan diganti oleh EVARDHARD RAHAMIS. Tahun 1962 E.Rahamis dipindahkan ke SDN Biru, dan yang menjadi wakil pimpinan di SEKOLAH RAKYAT MASEHI ( SRM ) KULUR ialah CHRISTOFIEN LAHAMA LUMONDO.
Oleh karena tenaga guru pada SRM Kulur sangat kurang, maka pada tahun 1964, kembali guru E.Rahamis dipindahkan ke Kulur dan menjadi Kepala Sekolah, tetapi sangat disayangkan pada tahun 1970 ia meninggal dunia, dan yang menggantikan posisinya sebagai Kepalah Sekolah ialah CHRISTOFIEN LAHAMA LUMONDO.
Kemajuan pendidikan pada masa orde baru, sehinggah gedung sekolah di Kulur yang tadinya hanya satu gedung, kini telah menjadi dua gedung sekolah, antaralain gedung sekolah ialah masing-masing SD.YPK.Kulur dan SDN.INPRES Kulur 6/75.
Demikianlah Sejarah Adanya Pendidikan Di Kampung/Desa Kulur, Kecamatan Tabukan Tengah, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara.
Penulis : Roland D. Tampilang A.Md.Pi
Sumber : Catatan Sejarah Jan Pieter Lahama ( 1976 )

Komentar
Posting Komentar